
Seorang pria di Grand Rapids, Michigan membuat iklan 1 halaman penuh seharga $7000 untuk menulis essay ini kepada orang-orang di daerahnya.
Ketika saya masih kecil, saya menghibur kamu dengan keunikanku dan membuatmu tertawa. Kamu memanggilku anakku, dan tanpa menghiraukan jumlah sepatu yang aku gigit dan beberapa bantal yang rusak, aku menjadi sahabatmu. Ketika aku “nakal”, kamu menggerakan jarimu dan bertanya “Kenapa kamu bisa begitu ?” Namun kemudian kamu akan melunak dan memberiku usapan diperut. Latihan untuk buang airku pun lebih lama dari seharusnya, karena kamu terlalu sibuk, tapi akhirnya kita berhasil bersama-sama. Aku ingat malam-malam ketika aku menggangumu di tempat tidur, mendengar rahasia dan mimpimu, dan aku percaya bahwa hidup sudah sangat sempurna.
Kita berjalan dan berlari di taman, naik mobil, berhenti untuk es krim (aku hanya dapat cone karena, katamu, es krim tidak baik untuk anjing) dan aku tidur lama dibawah matahari menunggumu pulang kerumah di sore hari. Secara bertahap, kamu lebih banyak meluangkan waktu di kantor dan pekerjaanmu, dan lebih banyak waktu mencari pendamping. Aku menunggumu dengan sabar, menenangkanmu ketika kamu patah hati dan kecewa, tidak pernah mencaci keputusanmu yang jelek, dan bersorak gembira menunggu kedatanganmu dan ketika kamu jatuh cinta.
Dia, istrimu bukanlah penyuka anjing, tapi tetap aku menyambutnya kedalam rumah kita, aku berusaha menunjukan kasih sayang dan menurutinya. Aku senang karena kamu senang. Kemudian, bayi manusia datang dan aku turut bahagia. Aku kagum warna bayimu, wanginya dan aku juga ingin merawatnya. Hanya kamu dan istrimu takut aku akan melukai bayi itu, dan aku menghabiskan waktuku di ruangan lain atau dalam kurungan.
Oh, aku ingin menyayangi mereka, tapi aku menjadi “tawanan cinta”. Dan mereka mulai besar, aku menjadi teman mereka. Mereka menarik buluku dan berdiri diatas kakinya yang lemah, mencolok mataku, melihat kupingku dan memberiku ciuma dihidung. Aku suka semua tentang mereka dan sentuhan mereka — karena sentuhanmu sudah sangat jarang — dan aku ingin membela mereka dengan nyawaku jika perlu. Aku menyelinap ke tempat tidur mereka dan mendengar kegelisahan dan mimpi mereka, dan bersama-sama kami menunggu suara mobilmu datang.
Ada waktu, ketika orang bertanya apakah kamu memiliki anjing, kamu akan memperlihatkan fotoku dari dalam dompetmu dan bercerita kepada mereka tentang aku. Tahun-tahun belakangan ini, kamu hanya menjawab “ya” dan mengubah pembicaraan. Aku telah berubah dari “anjing mu” menjadi “hanya anjing” dan kamu tersinggung akan segala hal tentang aku. Sekarang, kamu punya karir yang lebih baik di kota lain, dan kamu serta keluargamu akan pindah ke apartemen yang tidak membolehkan hewan piaraan. Kamu membuat keputusan yang tepat untuk “keluargamu”, namun ada waktu dimana hanya akulah keluargamu.
Aku sangat senang ketika akhirnya kita pergi naik mobil, sampai akhirnya kita tiba di penampungan hewan. Tempat itu berbau anjing dan kucing, ketakutan, tidak ada harapan. Kamu mengisi formulir dan berkata “Aku tahu kalian akan mencarikan tempat yang baik untuknya”. Mereka diam dan memberimu muka tanpa ekspresi. Mereka mengerti kenyataan yang dihadapi anjing setengah baya, bahkan untuk yang memiliki “surat”. Kamu harus menarik tangan anakmu dari kalungku sembari dia berteriak “Jangan ayah, jangan biarkan mereka mengambil anjingku!” Dan aku kawatir tentang dia, pelajaran apa yang telah engkau ajarkan tentang persahabatan dan kesetiaan, tentang kasih sayang dan tanggung jawab, dan tentang menghargai hidup.
Kamu memberiku salam perpisahan dikepala, menghindari mataku dan dengan sopan menolak membawa kalungku. Kamu punya tenggat waktu dan aku rasa aku juga punya sekarang. Setelah kamu pergi, dua wanita baik berkata kamu mungkin tahu beberapa bulan sebelumnya tentang kepindahanmu dan tidak berusaha mencarikan aku rumah yang baik. Mereka menggeleng dan berkata “Kenapa kamu bisa begitu ?”
Mereka perhatian kepada kami semampu jadwal sibuk mereka. Mereka memberi kami makan, tentu, tapi aku kehilangan selera beberapa hari yang lalu. Pertama kali, ketika orang lewat di depan kandangku, aku cepat-cepat lari kedepan, berharap itu kamu yang berubah pikiran dan berpikir semua ini hanya mimpi buruk.. atau aku berharap itu orang yang peduli, orang yang mungkin menyelamatkanku. Ketika aku tahu aku tidak bisa bersaing dengan bayi-bayi anjing yang lucu, aku mundur jauh ke sudut dan menunggu.
Aku mendengar langkah kakinya ketika dia datang di sore hari, dan aku mengikutinya dilorong ke ruang lain. Ruangan yang sepi. Dia meletakanku diatas meja dan membelai kupingku dan berkata “Jangan kuatir”. Hatiku berdebar tentang apa yang akan terjadi, tetapi timbul juga rasa lega. Tawanan cinta telah kehilangan hari-harinya. Dan karena sudah sifatku, aku lebih kawatir kepadanya.
Beban yang dia tanggung sangat berat, dan aku tahu itu, sama seperti aku tahu setiap keadaan hatimu. Dia dengan lembut meletakan turniket (alat penghenti pendarahan) dikakiku sambil airmata turun ke pipinya. Dia dengan sigap menyuntikan jarum ke nadiku. Sedang aku merasakan tusukan, cairan mengalir didalam tubuhku. Aku terbaring mengantuk, melihat matanya dan berkata “Kenapa kamu bisa begitu ?”
Mungkin dia mengerti ucapan anjing, dia berkata “Maafkan aku” Dia memeluku, dan berkata bahwa itu tugasnya untuk memastikan aku pergi ke tempat yang lebih baik, dimana aku tidak ditelantarkan, atau disiksa, atau diasingkan, tempat kasih sayang dan yang cahanya beda dengan dunia ini.
Dan dengan kekuatan terakhirku, aku berusaha menghiburnya dengan kibasan ekorku dan bahwa “Kenapa kamu bisa begitu ?” bukan untuknya. Itu untuk kamu, tuanku tersayang, aku memikirkanmu. Aku memikirkanmu dan menunggumu selamanya. Semoga semua orang dihidupmu terus memberimu kesetiaan.
Catatan dari penulis :
Jika tulisan ini membuat anda menangis, seperti ketika aku menulisnya, ini akibat bermacam cerita dari jutaan hewan peliharaan yang mati tiap tahun di tempat penampungan. Setiap orang bebas mendistribusikan tulisan ini untuk kepentingan non-komersil.
Gunakan tulisan ini untuk memberitahu masyarakan bahwa keputusan menambah piaraan dalam keluarga adalah penting, bahwa hewan peliharaan berhak atas kasih sayang dan perawatan, bahwa mencarikan rumah untuk peliharaan adalah tanggung jawab anda dan bahwa hidup itu berharga. Lakukanlah bagianmu untuk menghentikan pembunuhan, dan dukunglah kampanye sterilisasi untuk mencegah hewan yang tidak diinginkan.
Sumber note dan foto: David Hadi Wibisono –>> terima kasih banyak ^_^
Saya langsung sesenggukan saat baca note dari fb mas David ini T_T. Saya jadi ingat waktu pertama kali berkunjung ke Bali, tahun baru yang lalu. Yang saya tau, di Bali banyak anjing bebas berkeliaran. So, dengan berbinar2 saya menyusuri jalanan. Dan apa yang saya lihat? Ya, memang banyak anjing. Entah yang dipelihara ataupun tidak. Tapi, sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan
Kebanyakan dari anjing2 itu terlihat begitu menyedihkan. Saya melewati beberapa rumah yang memelihara anjing. Ada yang anjingnya tak pernah berhenti menggaruk2 seluruh badan. Sepertinya anjing itu memang punya masalah kulit, dan sudah parah! Kudis, bulunya tipis, kulit kemerahan tampak disana-sini. Dia betul2 kelihatan sangat menderita. Saya tidak habis pikir. Apa majikannya tidak punya hati??
Waktu saya melintas di jalan raya, saya melihat seonggok daging di pinggir jalan. Setelah dekat, ternyata itu anjing. Sedang tidur. Saya PIKIR dia sedang tidur. Beberapa detik saya baru sadar, makhluk itu bukan tidur, tapi mati. Banyak lalat mengerubungi, dan kondisinya sangat memilukan.
Saat menyaksikan di tv proses ‘pembantaian’ anjing secara massal di Bali, saya nangis2. Saya ngoceh2 sendiri sambil sesenggukan, “kenapa kalian seenaknya miara anjing, tapi ga diurus! bgini jadinya. mereka brkembang biak gak terkontrol, ujung2nya rabies merajalela. mereka juga yg dibantai. padahal mereka ga pengen hidup kayak gitu, terlantar, trkena rabies, lalu disuntik mati, dan dibakar. mereka cuma pingin jadi sahabat kalian, dan ngejaga kalian…Tapi ini yg mereka dapat”
Teman2, tolonglah, kalau berminat punya peliharaan, entah itu anjing, kucing, bahkan hamster…. Pikir panjanglah dulu. Dan kalau kalian sudah jadi majikan, sayangi mereka.
Recent Comments